Wednesday, January 26, 2011

MENGALIR

Ngetem lagi…. Ngetem lagi…
Doh… mikrolet yang kutumpangi kali ini sungguh sangat menyebalkan… Nggak ngerti apa ya ya kalau waktu berjalan cepat, dan sekarang pun aku sudah terlambat sampe di Paser Baroe...
Supir mikrolet M12 dari Kota ke Senin, lewat Paser Baroe ini bener-bener deh... Ini sudah yg keempat kalinya dia ngetem. Di stasiun kota 5 menit, di pengkolan Asemka 4 menit, di Glodok 5 menit, Jayakarta hotel entah berapa menit dan ini pertigaan Olimo ngetem lagi. Waaaa.......

”Bang... ayo dong...cepet sedikit... talat nehh... ngetem mulu.....” berusaha sehalus mungkin mengeluarkan kata-kata.
”ngga lihat apa mba... penumpang dari tadi cuman 2 orang gini”, besok pagi istri dan anak saya mau makan apa.
”Kan nariknya dah dari tadi bang”, kata penumpang selain saya yg duduk di depan.  Sepertinya dia sebel juga.
”sepi gini dah dari jam 10 pagi tadi mba, mas..., sedih saya”.
”disembahyangin ngga?” tanya si mas, iseng...
”... gak kurang-kurang mas...”
Wah.... kesian juga si abang...kupikir... dari pada ngomel-ngomel tidak berguna, aku akhirnya mulai mendoakan dia dalam hati, minta agar Tuhan campur tangan dalam hal ini dengan membuat angkot ini penuh penumpang. Dan kalau boleh meminta lebih, aku mohon agar Tuhan membuat angkot ini penuh penumpang setiap kali dia bekerja.  Aminnnnn....

Sampai di depan pos kota, tiba-tiba ada 2 orang yang menghentikan angkot. Nenek-nenek bongkok yang sudah sangat tua dan berjalan tertatih-tatih serta laki-laki setengah baya yang manggandenganya dengan hati-hati. 
Wahh... cepat sekali Tuhan menjawab doa ku..

Abang sopir angkot mendekatkan mobil dengan tangkas.
”Bang titip nenek saya ya. Nanti berhenti nya di Garuda, di sana ada anak perempuan, anak saya, yang nunggu kok. Tolong sekalian bantuin nenek turun ya Bang. Ini uangnya ” katanya laki-laki setengah baya itu sambil mengangsurkan uang 2ribu.
”Loh loh... mas nya gak ikut naik.?” tanya si abang
”Ngga Bang, warung rokok saya gak ada yang jaga.  Tolong ya Bang..” kata laki-laki tadi berharap.
”Ogah ah...” kata si abang sambil menancap gas.
”kok gak diambil bang, lumayan kan... ” tanya si mas penumpang depan.
”Males mas.... Ngrepotin”.
Haaaa............

----
Hari itu Tuhan memberi pengertian yang baru padaku tentang bagaimana rejeki itu ada di sekitar kita.

     Rejeki seperti air terjun yang akan terus mengalir tanpa henti asalkan tampungan air di bawahnya mengalirkan air itu ke sungai sungai, supaya sungai membawanya ke laut, menguap, turun hujan dan kemudian kembali ke sumber air terjun.
Jika tampungan air berhenti memberikan air ke sungai.  Jangan berharap akan turun hujan dan jangan berharap mata air akan mengeluarkan sumbernya.
Siklus rejeki tidak melulu bicara tentang uang, tapi juga tentang kebaikan hati.
”Berilah, maka kamu akan diberi”

Siapa bilang Tuhan tidak menjawab doa abang sopir, untuk memberikan dia rejeki pada hari itu....

----
Yessy Natalia
Jakarta,  Januari ’2011

No comments:

Post a Comment