Monday, January 31, 2011

-MAJULAH ANAK INDONESIA-

By: Dite Aricatrini 1-2/A4

Sebuah asa bagi generasi masa depan dan pendidikan Indonesia yang(menurutku) seharusnya lebih berorientasi kepada SISWA bukan kepada HASIL !!

Setelah Andrea Hirata dengan novel tetralogi Laskar Pelangi karyanya, kini Anis Baswedan menggagas dan melaksanakan Gerakan Indonesia Mengajar (GIM). Tanpa mengecilkan peran semua tokoh pendidikan di Indonesia,juga semua guru yang pernah mendidikku di sekolah formal sejak TK sampai perguruan tinggi, 2 orang ini membuat aku tak mampu berhenti berharap dan merasa yakin anak Indonesia bisa !!!

Sebagai seorang ibu yang baru berpengalaman mengasuh 2 anak selama 12 tahunan,juga sebagai seorang guru yang baru punya pengalaman mengajar selama10 tahunan aku seriiiiiing sekali bertanya dalam hati “mau dibawa kemana pendidikan Indonesia?” ”mau dijadikan apa anak2 kita kelak?” dan beberap pertanyaan lain yang sangat mengganggu. Segala perasaan sedih,gemas,jengkel,marah maupun optimis silih berganti kualami. Namun satu yang kuusahakan untuk tetap kulakukan, berdoa kepada Allah SWT agar anak2ku serta semua anak Indonesia menjadi generasi yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Sesungguhnya anak adalah amanah terpenting bagi kita semua dalam menjalani kehidupan. Di tangan merekalah kelak masa depan kita ditentukan. Bukan hanya masa depan kita sebagai orang tuanya, tapi juga masa depan bangsa dan negara ini, masa depan dunia ini.

Dengan semakin simpang siurnya kondisi negeri ini,harusnya kita semua sadar bahwa mempersiapkan generasi mendatang dengan lebih baik adalah sebuah kewajiban! Tapi sudahkah kita sadar ? Silahkan bertanya pada diri kita masing-masing. Aku disini hanya ingin sedikit menceritakan pengalamanku sebaga ibu dari 2 orang anak yang bersekolah. Serta pengalamanku sebagai guru di sebuah sekolah.

KOK GITU YA MAH?

Setahun yang lalu si sulung melaksanakan ujian akhir SD. Sebagai siswa sekolah swasta yg baru saja berdiri, Kakak dan teman sekelasnya yg berjumlah 4 orang belum diijinkan untuk ujian di sekolahnya sendiri dan diharuskan mengikuti ujian di sebuah SD Negeri terdekat. Hari pertama lancer, namun hari kedua sepulang ujian Kakak bercerita: Mah, masak tadi guru pengawasnya nanya ke murid2, “Ada yang gak bisa jawab? Ayo tanya saja nanti Bapak bantu” kok gitu ya Mah? Katanya kalo ujian kan harus berusaha sendiri, gak boleh tanya2. Aku hanya bisa menjawab “Itulah Indonesia kita nak”

BEBERAPA STATUS DI FB
Menjelang ulangan umum tengah semester maupun akhir semester beberapa status fb menulis “anak ujian emak kebingungan” “aku belum bikin soal latihan buat anakku nih” “wuah selesai juga nge-drill si kakak, jadi ngantuk deh” dan beberap status lain semacam itu. Aku jadi ingat masa kecilku yg sangat menyenangkan,setiap menjelang ulangan umum aku berkumpul bersama teman sebaya dan belajar bersama dari jam 4 sampai jam 5 sore saja. Ibuku menyediakan snack sederhana serta teh untuk kami,tentunya disertai senyum paling tulus dan paling cantik yang sangat menenangkan hatiku saat itu. Yah jaman memang berubah,saat ini tuntutan terhadap HASIL lebih mendominasi sehingga hampir semua ibu yang anaknya menjelang ulangan akan berusaha mati-matian menggenjot prestasi akademik si anak sampai maksimal, bagaimanapun caranya. Aku bertanya sendiri dalam hati “hepi gak ya anak2 mereka?” “apa ya yang anak2 itu pikirkan setiap kali jadwal ulangan umum

dibagikan?” . Akhirnya aku jawab sendiri saja dalam hati “Yah inilah Indonesia”

DI KELAS MURIDKU BERTANYA
Sebagai guru di sebuah SMA aku sering mendapat tugas mengajar di kelas 11 atau kelas 2 SMA. Kelas tempat anak2 merasa sudah senior tapi masih jauh dari kewajiban menghadapi ujian akhir. Kelas tempat usia anak rata2 adalah 15-16 tahun (remaja dalam artian yang sesungguhnya). Juga merupakan kelas yang siswanya paling sering mendapatkan tugas untuk melaksanakan kegiatan2 selain belajar seperti OSIS,lomba-lomba maupun panitia kegiatan ini dan itu. Kelas yang sangat dinamis,I love my job!

Suatu hari seorang murid bertanya : “Sensei (begitu mereka menyebutku), kan tiap ulangan kita gak boleh nyontek nih, tapi kenapa kalo pas UAN setahu saya ada kakak2 kelas yg justru diijinkan untuk membagi jawabannya ke teman2nya, sebenernya boleh nyontek gak sih ?” aku terdiam beberapa saat memikirkan jawaban apa untuknya, akhirnya terlontar juga jawaban ini, “yah begitulah Indonesia, kalo kamu silahkan pilih aja mana yang terbaik menurutmu?” aku lanjutkan lagi dengan, “kalo ibu sih prinsipnya lebih baik dapat jelek tapi jujur daripada dapat bagus tapi hasil nyontek!”. Murid lain segera menyahut, “tapi kan demi membahagiakan orang tua, Sensei, kalo dapet jelek mereka sedih kan kasihan juga?” aku hanya berlindung dibalik bel sekolah “OK time is up, PR nya jangan lupa dikerjakan ya….” Dalam hati aku tetap bertanya-tanya, apakah semua orang tua di negri ini sudah sedemikian terpengaruh pula oleh HASIL sehingga tidak peduli lagi cara

apa pun yang ditempuh anaknya asal RAPOTNYA BAGUS dan si anak RANGKING SEKIAN BESAR di sekolahnya.

OOOO MULAKNO…..(ooo makanya….)

Kesimpulan dari sedikit pengalamanku itu sangatlah jelas, diawali dengan oooo makanya negri ini amburadul lha wong sistemnya begitu. Atau ooooo makanya jumlah koruptor nambah terus lha wong sejak kecil diajarkan boleh tidak jujur asal rapotnya bagus. Akhirnya yaaaah itulah Indonesia. Terserah kita, mau sadar seperti Andrea Hirata atau Anis Baswedan, atau mau tetap pingsan??

MAJULAH ANAK INDONESIA………KALIAN BISA!!

No comments:

Post a Comment